TPijar Tambolaka
Budaya & Tradisi Lokal Sumba Barat Daya (tenun, pasola, marapu)

Tenun Ikat Sumba Barat Daya dan Marapu: Ketika Motif Kain Menyimpan Doa Leluhur

Tenun ikat Sumba Barat Daya bukan sekadar kain. Motifnya menyimpan doa leluhur, terikat pada kepercayaan Marapu yang masih hidup di Tambolaka.

Tenun Ikat Sumba Barat Daya dan Marapu: Ketika Motif Kain Menyimpan Doa Leluhur

Hal Penting

  • Tenun ikat Sumba Barat Daya dibuat dengan teknik ikat lungsi, benang diikat dan dicelup pewarna sebelum ditenun
  • Motif kain terhubung dengan kepercayaan Marapu, sistem keyakinan leluhur masyarakat Sumba
  • Proses menenun dilakukan perempuan, dari memintal kapas, mengikat motif, mencelup, sampai menenun
  • Pewarna tradisional memakai akar mengkudu, kunyit, dan indigo yang tumbuh di sekitar kampung
  • Kain dipakai dalam upacara adat, perkawinan, dan pemakaman sebagai penanda status dan doa

Benang yang Diikat Sebelum Ditenun

Di kampung-kampung sekitar Tambolaka, ibu-ibu duduk di beranda rumah panggung. Tangan mereka memintal kapas, lalu mengikat benang lungsi dengan tali rafia kecil mengikuti pola di kepala. Bagian yang diikat tidak akan terkena warna saat dicelup. Teknik ini disebut ikat lungsi, ciri khas tenun Sumba. Setelah ikatan dibuka, muncul motif. Baru kemudian benang ditenun di alat tenun kayu sederhana. Satu helai kain bisa memakan waktu berminggu-minggu, tergantung kerumitan motif dan ukuran. Prosesnya tidak bisa dikebut. Ada tahap mencelup berulang untuk mendapat warna tua. Ada tahap menjemur di bawah matahari Sumba Barat Daya yang terik. Semua dikerjakan bergantian dengan urusan rumah dan kebun.

Motif sebagai Doa, Bukan Hiasan

Bagi masyarakat penganut Marapu, motif kain bukan sekadar gambar. Ada motif kuda, ayam, ular, dan tumbuhan yang punya makna. Motif tertentu hanya boleh dipakai dalam upacara tertentu. Kuda misalnya, melambangkan keberanian dan kendaraan menuju alam leluhur. Ayam melambangkan pengorbanan. Ada juga motif geometris yang diwariskan turun-temurun, polanya dihafal, tidak ditulis. Perempuan yang menenun biasanya berpuasa atau menjaga perilaku selama proses. Ia percaya doa dan niat ikut mengalir ke dalam kain. Karena itu kain tenun dipakai saat upacara Marapu, seperti perkawinan adat dan pemakaman. Warna dan motif menunjukkan status keluarga. Makin tua dan rumit motifnya, makin dalam nilai adatnya. Kain juga menjadi mas kawin dan hadiah antarkeluarga.

Marapu dan Pasar yang Berubah

Marapu adalah kepercayaan leluhur masyarakat Sumba. Meski banyak warga kini beragama Kristen dan Katolik, praktik Marapu masih hidup di kampung-kampung. Tenun ikat menjadi salah satu jembatan, karena motif dan ritualnya melekat pada keyakinan ini. Di Tambolaka, kain tenun dijual di pasar lokal dan toko oleh-oleh. Harganya bervariasi, dari ratusan ribu rupiah untuk kain kecil sampai jutaan untuk kain besar bermotif rumit. Sebagian penenun beralih ke benang pabrik dan pewarna kimia karena lebih cepat dan murah. Namun ada juga yang bertahan dengan pewarna alami dari akar mengkudu, kunyit, dan indigo. Permintaan dari luar Sumba meningkat, terutama lewat pesanan online. Tantangannya, regenerasi. Banyak anak muda lebih memilih kerja di kota. Meski begitu, beberapa komunitas mulai melibatkan sekolah dan sanggar untuk mengenalkan menenun sejak dini. Kain tenun Sumba Barat Daya tetap dipakai, dijual, dan diwariskan, meski zaman bergerak cepat.

Tanya Jawab Singkat

Apa itu tenun ikat Sumba Barat Daya?

Kain tradisional yang dibuat dengan teknik ikat lungsi, benang diikat dan dicelup pewarna sebelum ditenun, khas masyarakat Sumba.

Apa hubungan tenun ikat dengan Marapu?

Motif dan warna kain punya makna spiritual. Kain dipakai dalam upacara Marapu dan dianggap menyimpan doa leluhur.

Di mana bisa membeli tenun ikat di Sumba Barat Daya?

Di pasar lokal Tambolaka dan toko oleh-oleh. Harga bervariasi, dari ratusan ribu sampai jutaan rupiah.

Apakah tenun ikat masih dibuat dengan pewarna alami?

Sebagian penenun masih memakai akar mengkudu, kunyit, dan indigo. Sebagian lain beralih ke pewarna kimia karena lebih cepat.